Asah Kompetensi, Guru Mansawangi Bedah Kurikulum Berbasis Cinta
Humas Mansawangi – Semangat dedikasi ditunjukkan puluhan tenaga pendidik Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banyuwangi. Meski di hari libur, mereka tetap antusias mengikuti Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digelar di ruang meeting madrasah setempat, Minggu kemarin (5/4).
Acara bertajuk “Meningkatkan Kompetensi dan Pengembangan Profesionalisme Guru” ini dibuka dengan khidmat lewat lantunan ayat suci Alquran oleh Ustaz Achmad Rizki Maulana. Hadir langsung memberikan arahan, Kepala MAN 1 Banyuwangi, Sugeng Maryono.
Dalam sambutannya, Sugeng memberikan apresiasi tinggi kepada para guru yang rela meluangkan waktu istirahatnya demi meningkatkan kualitas diri. Menurutnya, belajar bersama ini merupakan langkah konkret untuk menajamkan cara mengajar di kelas.
"Apresiasi luar biasa untuk bapak dan ibu guru. Kehadiran kita di sini, meski di hari libur, adalah bukti komitmen untuk terus tumbuh. Tujuan kita satu: mengasah kompetensi agar kualitas pengajaran di Mansawangi semakin prima," tegas Sugeng.
Bedah Regulasi dan RPP Kilat
Materi pertama dipaparkan oleh Ketua Pokjawas Madrasah Kemenag Banyuwangi, Askhab. Ia mengupas tuntas filosofi KBC secara global beserta payung hukum yang menaunginya. Tak hanya teori, Askhab juga membuka ruang dialog interaktif.
Salah satu sesi yang paling diminati adalah tips efisiensi administrasi. Askhab membagikan metode cepat dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar guru tidak terjebak pada beban administrasi, namun lebih fokus pada esensi pengajaran.
Internalisasi Panca Cinta. Memasuki inti workshop, peserta disuguhi materi penguatan KBC yang dikemas melalui konsep Panca Cinta. Lima pemateri dihadirkan untuk membedah instrumen tersebut secara mendalam:
Cinta kepada Allah dan Rasulullah: Disampaikan oleh Abdul Afwu G. sebagai fondasi spiritual pendidik.
Cinta Ilmu dan Materi serta Cinta Alam: Halimatus Sa`diyah menekankan pentingnya menjaga harmoni dengan lingkungan dalam proses belajar.
Cinta Diri dan Sesama Manusia: Erma memaparkan sisi psikologis dan empati antar personal di lingkungan madrasah.
Cinta Tanah Air: Disampaikan oleh Wulida sebagai bentuk penanaman jiwa nasionalisme kepada peserta didik.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi. Melalui workshop ini, para guru diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kasih sayang dalam setiap interaksi belajar-mengajar, sehingga tercipta atmosfer madrasah yang lebih hangat dan berprestasi.