DESTINASI PENANGKARAN PENYU DALAM KEMAH TAHUNAN MANSAWANGI
Destinasi Penangkaran Penyu Pantai Cemara dalam Kemah Akhir Tahun Mansawangi, 10-12 Mei 2018
Lebih dari 300 siswa siswi kelas x Mansawangi mengikuti perkemahan akhir tahun di area wisata Pantai Cemara. Dimulai tanggal 10 Mei 2018 pukul tiga sore, seluruh siswa mulai memadati area perkemahan. Kegiatan ini akan berlangaung selama dua hari. Berbagai acara akan dilakukan oleh seluruh siswa berpakaian pramuka ini, mulai dari upacara pembukaan, kegiatan penilaian tenda dan kebersihaan, lomba memasak dan sebagainya. Semua kegiatan yang berlangsung di area terbuka ini cukup nyaman karena dilindungi deretan pohon cemara hasil tanam swadaya masyarakat sekitar Pantai Cemara. Terlihat pepohonan cemara mulai tinggi dan dan meneduhkan pantai yang semula gersang dan panas. Cemara-cemara ini memang menjadi target tanaman yang sebanyak-banyaknya akan ditanam untuk merindangi sepanjang pantai. Di beberapa tempat terlihat bibit cemara dalam polibag, siap ditanam. Selain ditanam secara berkala, cemara ini juga akan ditanam bersamaan dengan event tertentu, entah program pemda atau menjadi kegiatan beberapa tamu penting. Selama berkemah siswa-siswi mansawangi juga mendapatkan pengetahuan tentang penangkaran penyu Pantai Cemara. Di rumah kayu berwarna coklat tua ini para siswa mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang kehidupan penyu yang singgah di Pantai Cemara.
Laut di pantai ini relatif bersih sehingga wajar ketika beberapa tahun ini menjadi jujugan minimal dua jenis penyu. Bulan Mei sampai Agustus adalah masa bertelur penyu, sehingga selama empat bulan ini para pegiat di lembaga penangkar penyu Pantai Cemara setiap malam mengamati pergerakan penyu. Mereka sudah menyiapkan berbagai titik yang dapat disingggahi penyu yang siap bertelur. Ketika didapati penyu bergerak ke pantai dan bertelur, mereka menyiapkan tempat untuk penangkaran. Telur penyu segera akan dipindahkan di tempat yang disiapkan. Proses ini dilakukan untuk menghindari kegagalan menetasnya telur penyu. Dari pengalaman, penetasan telur penyu secara alami, hanya 50 persen yang berhasil. Itu pun bila terlewatkan, tukik yang baru menetas, segera lari ke laut. Tukik yang masih lemah akan banyak yang mati dimangsa predator. Bila dilakukan penangkaran, keberhasilan penyu hidup dan bertahan di laut akan lebih besar. Ketika ditangkar, pasir yang menutupi telur penyu selalu diganti agar tidak terlalu kering dan membuat telur menjadi kisut dan rusak. Tukik yang berumur kurang lebih satu atau dua bulanlah yang siap dilepas ke laut bebas. Bila beruntung kita dapat menjadi bagian dari kegiatan pelepasan tukik ini dengan mengganti biaya pemeliharaan sebesar 30 ribu rupiah. Sayang kali ini para siswa belum beruntung. Namun pembelajaran tentang penyu ini memperkaya pengetahuan para siswa pramuka Mansawangi tentang pentingnya menjaga kelestarian sesama makhluk hidup, seperti habitat penyu Pantai Cemara. (LUTFI)